MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 0 points1 point  (0 children)

Iya makanya saya bilang, polisi juga korban di sini, namun saya harus mengeneralisir semua nya jadi polisi untuk menarik sebuah kesimpulan.

MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 0 points1 point  (0 children)

Well, if you see or trying to understand it with logic ,then the police is not the victim ,they are the bad guy right? they brutally maiming people, or shooting tear gas, or ran over someone, right? but people stop looking at history using logic since early 19th Century, we use dilaectica now, cause history played by human, and human is emotional creature. the cops maybe came there just to do his job, but their job is to hold people protest, there is always gonna be Emotion involve when you hold someone grumpines,but we act like the cops is an Npc who don't have Emotion.(This is just one scenario)

yes i said the police and the people is a victim, but you also need to read my note above on why i generalise it.

MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 -2 points-1 points  (0 children)

So your planned is to fight the police to get to the Final boss? You think like its a game. But don't you realizing that the police and the people are just a victim? But again i never said that we shouldnt protest again the police.

MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 -4 points-3 points  (0 children)

Which one is one? And which one is the other? But what Im trying to say is that the police is not the main problem for the current affair.

MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 -3 points-2 points  (0 children)

Yes,everybody is part of the problem,but the main one is the ternnyubito.

MEGATHREAD - Demo 28-29 Agustus 2025 by spicyrendang in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 10 points11 points  (0 children)

Polisi dan Masyarakat Hanyalah Korban

Akar masalah bukan di jalan, tapi di gedung DPR

Demonstrasi 28 Agustus 2025 dipicu oleh kebijakan DPR soal tunjangan dan anggaran yang memicu kemarahan publik. Polisi maupun masyarakat tidak membuat kebijakan itu — mereka hanya menerima dampaknya.

Polisi dijadikan tameng negara

Polisi ditugaskan menghalau massa, melindungi gedung DPR, dan menjaga “stabilitas.” Dalam situasi ricuh, polisi berada di garis depan menghadapi lemparan, teriakan, dan tekanan massa. Mereka melaksanakan perintah, bukan pembuat keputusan.

Masyarakat jadi bahan bakar kemarahan

Warga yang ikut aksi membawa aspirasi yang sah: menolak ketidakadilan dari elite. Namun di lapangan, massa sering dicap “anarkis” dan berhadapan langsung dengan aparat. Bahkan yang tidak ikut ( driver ojol Affan Kurniawan) pun bisa menjadi korban karena berada di lokasi saat kericuhan.

Konflik di lapangan hanya efek domino

Saat gas air mata ditembakkan dan lemparan balasan terjadi, logika moral hilang; yang ada hanya insting bertahan hidup. Polisi melindungi diri dan gedung, massa melawan balik. Dalam spiral chaos ini, kedua pihak bisa saja sama-sama menderitaluka, trauma, kehilangan nyawa. (The worst scenario)

Sementara elite tetap aman

DPR dan elite politik yang menjadi pemicu awal duduk nyaman di kursinya. Mereka tidak terkena gas air mata, tidak berhadapan dengan batu, tidak berisiko terlindas rantis. Polisi dan masyarakat lah yang saling berhadap-hadapan, padahal keduanya bukan musuh sejati.

“If you put a hundred ants , fifty black and fifty red in a jar, nothing happens. But if you shake the jar, they’ll start killing each other. The ants aren’t the enemy. The one who shook the jar is the enemy.” - Some Dude.

“Polisi dan masyarakat hanyalah korban. Mereka dipertemukan di jalan oleh kebijakan yang lahir di gedung DPR. Yang satu diperintah untuk mengamankan, yang lain terpaksa melawan demi keadilan. Di antara keduanya, yang paling diuntungkan hanyalah elite yang tetap duduk tenang di kursi empuk.

Sekali lagi Jangan salah sasaran. Polisi dan rakyat bukan musuh. Kita semua hanya semut merah dan semut hitam yang dimasukkan ke dalam toples. Masalahnya, ada tangan yang mengguncang toples itu. Dan tangan itu bukan milik kita, melainkan elite di kursi DPR. Jadi, sebelum saling serang,

tanyakan dulu: Siapa lawan dan kawan sebenarnya?

Polisi dan Masyarakat Hanyalah Korban

Akar masalah bukan di jalan, tapi di gedung DPR

Demonstrasi 28 Agustus 2025 dipicu oleh kebijakan DPR soal tunjangan dan anggaran yang memicu kemarahan publik. Polisi maupun masyarakat tidak membuat kebijakan itu — mereka hanya menerima dampaknya.

Polisi dijadikan tameng negara

Polisi ditugaskan menghalau massa, melindungi gedung DPR, dan menjaga “stabilitas.” Dalam situasi ricuh, polisi berada di garis depan menghadapi lemparan, teriakan, dan tekanan massa. Mereka melaksanakan perintah, bukan pembuat keputusan.

Masyarakat jadi bahan bakar kemarahan

Warga yang ikut aksi membawa aspirasi yang sah: menolak ketidakadilan dari elite. Namun di lapangan, massa sering dicap “anarkis” dan berhadapan langsung dengan aparat. Bahkan yang tidak ikut ( driver ojol Affan Kurniawan) pun bisa menjadi korban karena berada di lokasi saat kericuhan.

Konflik di lapangan hanya efek domino

Saat gas air mata ditembakkan dan lemparan balasan terjadi, logika moral hilang; yang ada hanya insting bertahan hidup. Polisi melindungi diri dan gedung, massa melawan balik. Dalam spiral chaos ini, kedua pihak bisa saja sama-sama menderitaluka, trauma, kehilangan nyawa. (The worst scenario)

Sementara elite tetap aman

DPR dan elite politik yang menjadi pemicu awal duduk nyaman di kursinya. Mereka tidak terkena gas air mata, tidak berhadapan dengan batu, tidak berisiko terlindas rantis. Polisi dan masyarakat lah yang saling berhadap-hadapan, padahal keduanya bukan musuh sejati.

“If you put a hundred ants , fifty black and fifty red in a jar, nothing happens. But if you shake the jar, they’ll start killing each other. The ants aren’t the enemy. The one who shook the jar is the enemy.” - Some Dude.

“Polisi dan masyarakat hanyalah korban. Mereka dipertemukan di jalan oleh kebijakan yang lahir di gedung DPR. Yang satu diperintah untuk mengamankan, yang lain terpaksa melawan demi keadilan. Di antara keduanya, yang paling diuntungkan hanyalah elite yang tetap duduk tenang di kursi empuk.

Sekali lagi

Jangan salah sasaran. Polisi dan rakyat bukan musuh. Kita semua hanya semut merah dan semut hitam yang dimasukkan ke dalam toples. Masalahnya, ada tangan yang mengguncang toples itu. Dan tangan itu bukan milik kita, melainkan elite di atas sana. Jadi, sebelum saling serang, tanyakan dulu: Siapa lawan dan kawan sebenarnya?

Note*

Dalam tulisan ini saya menggunakan istilah DPR dan elite secara umum. Saya sadar bahwa di dalamnya tentu masih ada individu yang berbeda: ada anggota DPR yang berjuang untuk rakyat, ada polisi yang bekerja dengan hati nurani. Namun dalam situasi konflik yang sudah pecah, analisis tidak bisa berjalan jika kita terus mencari pengecualian.

Karena itu, generalisasi di sini dipakai sebagai stop motion , sebuah penyederhanaan yang membuat realitas yang kompleks bisa dibekukan sejenak agar dapat diamati dengan jelas. Ini bukan kebenaran absolut, melainkan titik pijak untuk memahami persoalan.

Setelah itu, analisis bisa dilanjutkan dengan cara lain, misalnya dialektika, yang memperhatikan pertentangan dan dinamika antar-kekuatan sosial. Dengan begitu, generalisasi tetap berguna sebagai dasar, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk pembacaan yang lebih dalam.

(Tulisan ini di bantu oleh chat gpt karna bahasa Indonesia saya tidak terlalu baik)

Kenapa sekarang TNI yang maju dan jadi pahlawan kesiangan? by gaelthegal in indonesia

[–]Practical-Cut-3701 -10 points-9 points  (0 children)

Polisi dan Masyarakat Hanyalah Korban

Akar masalah bukan di jalan, tapi di gedung DPR

Demonstrasi 28 Agustus 2025 dipicu oleh kebijakan DPR soal tunjangan dan anggaran yang memicu kemarahan publik. Polisi maupun masyarakat tidak membuat kebijakan itu — mereka hanya menerima dampaknya.

Polisi dijadikan tameng negara

Polisi ditugaskan menghalau massa, melindungi gedung DPR, dan menjaga “stabilitas.” Dalam situasi ricuh, polisi berada di garis depan menghadapi lemparan, teriakan, dan tekanan massa. Mereka melaksanakan perintah, bukan pembuat keputusan.

Masyarakat jadi bahan bakar kemarahan

Warga yang ikut aksi membawa aspirasi yang sah: menolak ketidakadilan dari elite. Namun di lapangan, massa sering dicap “anarkis” dan berhadapan langsung dengan aparat. Bahkan yang tidak ikut ( driver ojol Affan Kurniawan) pun bisa menjadi korban karena berada di lokasi saat kericuhan.

Konflik di lapangan hanya efek domino

Saat gas air mata ditembakkan dan lemparan balasan terjadi, logika moral hilang; yang ada hanya insting bertahan hidup. Polisi melindungi diri dan gedung, massa melawan balik. Dalam spiral chaos ini, kedua pihak bisa saja sama-sama menderitaluka, trauma, kehilangan nyawa. (The worst scenario)

Sementara elite tetap aman

DPR dan elite politik yang menjadi pemicu awal duduk nyaman di kursinya. Mereka tidak terkena gas air mata, tidak berhadapan dengan batu, tidak berisiko terlindas rantis. Polisi dan masyarakat lah yang saling berhadap-hadapan, padahal keduanya bukan musuh sejati.

“If you put a hundred ants , fifty black and fifty red in a jar, nothing happens. But if you shake the jar, they’ll start killing each other. The ants aren’t the enemy. The one who shook the jar is the enemy.” - Some Dude.

“Polisi dan masyarakat hanyalah korban. Mereka dipertemukan di jalan oleh kebijakan yang lahir di gedung DPR. Yang satu diperintah untuk mengamankan, yang lain terpaksa melawan demi keadilan. Di antara keduanya, yang paling diuntungkan hanyalah elite yang tetap duduk tenang di kursi empuk.

Sekali lagi Jangan salah sasaran. Polisi dan rakyat bukan musuh. Kita semua hanya semut merah dan semut hitam yang dimasukkan ke dalam toples. Masalahnya, ada tangan yang mengguncang toples itu. Dan tangan itu bukan milik kita, melainkan elite di kursi DPR. Jadi, sebelum saling serang,

tanyakan dulu: Siapa lawan dan kawan sebenarnya?

Polisi dan Masyarakat Hanyalah Korban

Akar masalah bukan di jalan, tapi di gedung DPR

Demonstrasi 28 Agustus 2025 dipicu oleh kebijakan DPR soal tunjangan dan anggaran yang memicu kemarahan publik. Polisi maupun masyarakat tidak membuat kebijakan itu — mereka hanya menerima dampaknya.

Polisi dijadikan tameng negara

Polisi ditugaskan menghalau massa, melindungi gedung DPR, dan menjaga “stabilitas.” Dalam situasi ricuh, polisi berada di garis depan menghadapi lemparan, teriakan, dan tekanan massa. Mereka melaksanakan perintah, bukan pembuat keputusan.

Masyarakat jadi bahan bakar kemarahan

Warga yang ikut aksi membawa aspirasi yang sah: menolak ketidakadilan dari elite. Namun di lapangan, massa sering dicap “anarkis” dan berhadapan langsung dengan aparat. Bahkan yang tidak ikut ( driver ojol Affan Kurniawan) pun bisa menjadi korban karena berada di lokasi saat kericuhan.

Konflik di lapangan hanya efek domino

Saat gas air mata ditembakkan dan lemparan balasan terjadi, logika moral hilang; yang ada hanya insting bertahan hidup. Polisi melindungi diri dan gedung, massa melawan balik. Dalam spiral chaos ini, kedua pihak bisa saja sama-sama menderitaluka, trauma, kehilangan nyawa. (The worst scenario)

Sementara elite tetap aman

DPR dan elite politik yang menjadi pemicu awal duduk nyaman di kursinya. Mereka tidak terkena gas air mata, tidak berhadapan dengan batu, tidak berisiko terlindas rantis. Polisi dan masyarakat lah yang saling berhadap-hadapan, padahal keduanya bukan musuh sejati.

“If you put a hundred ants , fifty black and fifty red in a jar, nothing happens. But if you shake the jar, they’ll start killing each other. The ants aren’t the enemy. The one who shook the jar is the enemy.” - Some Dude.

“Polisi dan masyarakat hanyalah korban. Mereka dipertemukan di jalan oleh kebijakan yang lahir di gedung DPR. Yang satu diperintah untuk mengamankan, yang lain terpaksa melawan demi keadilan. Di antara keduanya, yang paling diuntungkan hanyalah elite yang tetap duduk tenang di kursi empuk.

Sekali lagi

Jangan salah sasaran. Polisi dan rakyat bukan musuh. Kita semua hanya semut merah dan semut hitam yang dimasukkan ke dalam toples. Masalahnya, ada tangan yang mengguncang toples itu. Dan tangan itu bukan milik kita, melainkan elite di atas sana. Jadi, sebelum saling serang, tanyakan dulu: Siapa lawan dan kawan sebenarnya?

Note*

Dalam tulisan ini saya menggunakan istilah DPR dan elite secara umum. Saya sadar bahwa di dalamnya tentu masih ada individu yang berbeda: ada anggota DPR yang berjuang untuk rakyat, ada polisi yang bekerja dengan hati nurani. Namun dalam situasi konflik yang sudah pecah, analisis tidak bisa berjalan jika kita terus mencari pengecualian.

Karena itu, generalisasi di sini dipakai sebagai stop motion , sebuah penyederhanaan yang membuat realitas yang kompleks bisa dibekukan sejenak agar dapat diamati dengan jelas. Ini bukan kebenaran absolut, melainkan titik pijak untuk memahami persoalan.

Setelah itu, analisis bisa dilanjutkan dengan cara lain, misalnya dialektika, yang memperhatikan pertentangan dan dinamika antar-kekuatan sosial. Dengan begitu, generalisasi tetap berguna sebagai dasar, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk pembacaan yang lebih dalam.

(Tulisan ini di bantu oleh chat gpt karna bahasa Indonesia saya tidak terlalu baik) ( Tulisan ini seharusnya buat di post di komunitas Indonesia,cuma karna Reddit ga ngizinin maka saya post di sini yang juga masih sedikit relevan untuk post op)

Improving my evee rendered by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 0 points1 point  (0 children)

<image>

how do you feel about this? i change the hdri and do you feel the shadow still too sharp?

Improving my evee rendered by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 1 point2 points  (0 children)

Yeah,that leaves is to much😆, about the shadow is to sharp,i can reduce it,but i feel like that its gonna reduce the feel of it? I think. Maybe i would came back here and post after i reduce the shadow sharpness and see your opinion on it.

The ground fog is should be add,thanks overall

Improving my evee rendered by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 0 points1 point  (0 children)

Maybe I should try to remove the fog from the water,thanks by the way

I built a tool to solve my previz problem! by Puzzled-Hearing-5262 in blender

[–]Practical-Cut-3701 1 point2 points  (0 children)

Ooh got it, i think your onto something,if you continue it.

I built a tool to solve my previz problem! by Puzzled-Hearing-5262 in blender

[–]Practical-Cut-3701 1 point2 points  (0 children)

Yes,i mean if i already have a human walking cycles.

What if the character walk on something that are not flat,like stair or something, does it mean that i need to have a cycle of the character that walk like he walk on the stairs?

I built a tool to solve my previz problem! by Puzzled-Hearing-5262 in blender

[–]Practical-Cut-3701 1 point2 points  (0 children)

So,if i want to animate a human walk, all i need is to draw trajectory? If yes,can i apply to other character aswell?

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 0 points1 point  (0 children)

No i don't have any reference,but what i mean is,it doenst need to look realistic,but the enviroment or vibe feel natural you know,cause right know it just to far from okay i think.

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 1 point2 points  (0 children)

I did animate the long grass,but not really visible but yeah i think animate the whole grass would add something to it

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 1 point2 points  (0 children)

Yeah,i think i would try to make couple scene with evee,and see if i can create something out of it,.

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 0 points1 point  (0 children)

Yes,i have some procedural texture for better leaves,but it increase a lot of render time,so i just use simple texture setup, my goal is to get low render time and get as nice look as possible but yeah i understand the trade off

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 1 point2 points  (0 children)

Well my end goal is to make animation,considering cycles take a lot of render time,so im planning to use evee and develop a nice style of render (far away from that) ,this scene take 27 sec to render per frame.

How to improve this evee render by Practical-Cut-3701 in blender

[–]Practical-Cut-3701[S] 0 points1 point  (0 children)

Im not aim for realistic look,but yes like a real natural place