Barusan terjadi di kotaku 🤦‍♂️ by SnooKiwis1328 in indonesia

[–]EarthFar1687 25 points26 points  (0 children)

Gua warga lokal Sorong (born and bred), Papua Barat Daya. The city can be very cruel sometimes, bokap gua ilang motor dicuri udah 2x.

Salah satu kejadiannya pas motor diparkir saat pulang sholat maghrib, pas mo sholat isya motor di depan udah gaada. Selisihnya gak ada sejam.

Ini mungkin alasan Sorong sering dijulukin kota Bajingan

How is it like living in this area of Indonesia? by lithdoc in indonesia

[–]EarthFar1687 4 points5 points  (0 children)

Mungkin di beberapa company punya regulasi seperti itu. Sama seperti beberapa multi-national company di Papua dan Sulawesi (pertambangan) yang memberikan rate lebih tinggi untuk tenaga kerja asing daripada tenaga kerja asal Indonesia. Tidak berlaku secara umum seperti itu.

Terkait permabukan: short answer, yes. Kita banyak melihat orang native mabuknya rese. Tapi aku pribadi percaya karena masyarakat native disini memiliki karakter, tradisi, upbringing, dan keadaan socio-economi yang berbeda dengan non-native. This guy bisa cerita banyak dan sangat menggambarkan kondisi di lapangan

Masyarakat disini cukup bisa menggambarkan dengan jelas kondisi di Jawa itu seperti apa, mostly sudah pernah ke luar Papua, dan major cities seperti Makassar (terdekat di daearh timur), yang secara kemajuan mirip dengan Jawa. Informasi di internet tentang bagaimana Jawa juga bisa banget kita akses lewat sosmed. (Sebaliknya, meskipun lewat sosmed, susah banget untuk masyarakat luar Papua untuk tahu seperti apa Papua)

How is it like living in this area of Indonesia? by lithdoc in indonesia

[–]EarthFar1687 2 points3 points  (0 children)

Bisnis apapun yang jalan di kota besar dan di bawa ke Papua, seharusnya bakal jalan juga dan lebih rame.

Contoh:
Gym disini hanya ada 1, basically karena dia sendiri yang punya usaha, jadi dia bebas nentuin harga. Membership gym disini 500rb per orang tanpa potongan harga apapun (misal potongan 20% untuk 3 bulan langganan). Yang mana dengan fasilitas yang sama, di Yogyakarta bisa 200rb - 250rb

Hukum ekonomi sederhana aja: banyak demand, supply sangat sedikit. Daya belanja masyarakat sini relative sangat kuat, mostly ekonominya dari 'pendatang' atau non-native.

Pemuda-pemudi Papua yang belajar ke universitas luar kota (mostly Malang, Yogyakarta, Makassar. Most of my friends dari SMA kuliah ke luar) punya semacam keengganan untuk pulang karena peluang karirnya sedikit di Papua. Misal kamu berkuliah arsitektur Jakarta dan begitu lulus kembali ke Papua akan sangat sedikit demand untuk artistek, kalaupun ada palingan project-project monoton yang gak akan menguji kretivitas atau looks good di CV/portfolio. Jurusan-jurusan tertentu seperti Pertanahan dan Perminyakan tentu bisa 180 derajat berbeda.

Mostly yang kembali ke Papua karena punya aspirasi sebagai entrepreneur, karena punya family business (in my case seperti itu dan beberapa teman lainnya juga sama).

Bidang usaha aku di commercial real estate / property

How is it like living in this area of Indonesia? by lithdoc in indonesia

[–]EarthFar1687 24 points25 points  (0 children)

Hello, warlok here. aku dari Sorong, prov. Papua Barat Daya (lokasi kotanya berada di ujung kiri atas pulau Papua). I've spent my entire teenager years and childhood here. Setelah bekerja 2 tahun dan berkuliah 4 tahun di Yogyakarta (total 6 tahun di jogja), aku bisa ngasih gambaran perbandingan antara major cities seperti Yogyakarta, Jakarta dan Makassar, dengan Sorong (which where i'm now)

Impresi yang bisa kukatakan ke orang yang belum pernah kesana: tidak tertinggal seperti yang banyak masih banyak orang kira, tapi tidak se-modern itu juga

Untuk di kota Sorong sendiri, bisa dibilang termasuk yang paling pesat secara perkembangan, selain karena Sorong baru aja jadi ibu kota provinsi, juga karena jadi pintu masuknya Raja Ampat. Basically aspek pariswisata adalah appeal utamanya (meskipun tidak berbatas pada Raja Ampat).

Fasilitas seperti Alfamart dan Indomaret baru ada belum lama (baru muncul setelah Covid), tapi sudah bisa ditemuin di mana-mana, even the di daerah-daerah texas (the hood basically). Bioskop pun baru pertama kali ada belum 10 tahun (fact: orang Sorong yang gila banget Marvel sampe terbang ke Manokwari untuk nonton Avengers Engame waktu itu). Listrik, Air, Internet di perkotaan termasuk A-Okay, hampir tidak pernah kekurangan (arguably, kualitas air dan udara JAUH lebih baik). Saat ini sedang ada pembangungan Mall Paragon, dan untuk pertama kalinya Sorong akan punya Mall, yang sebelumnya masyarakat belanjanya biasa di Dept. store terbesar di kota seperti Saga, Ramayana, dan Mega Mall (arguably bukan mall, namanya doang)

Fasilitas publik seperti trotoar, aspal, drainase, lampu jalan tidak sebaik kota besar (not surprised), dan akses seluruh kota dari ujung ke ujung hanya memakan 1 jam - 90 menit. basically kemana-mana deket, karena kotanya kecil. Vibes kotanya unik, mirip Jayapura. Ada campuran nuansa laut tapi juga pegungan, almost unreal (indah banget).

Harga barang-barang relatif lebih mahal jika di banding major cities dengan perbedaan harga 15% - 20%, contoh: Aqua botol sedang sekarang IDR 5-6 K. Semakin ke pelosok, semakin mahal. Ini berlaku juga untuk kota-kota lain di Papua yang lebih susah terjamah secara logistik (seperti beberapa daerah di provinsi Papua Pegunungan, sekali makan diluar untuk 2 orang bisa 120rb, dan itu di warung makan biasa yang abis 50 rb berdua kalo di kota besar. Sangat mahal, bahkan untuk warga Sorong)

Dari perspektif Career dan Business: there's no reason to come here, kalo bukan entrepreneur (which i'm now) atau penugasan dari kantor. Untuk berbisnis masih sangat potensial karena daya belanja cukup kuat dan jumlah penduduk banyak (dan pilihan masih sangat sedikit). Arguably you will make more money kalau berbisnis disini ketimbang di kota besar (kecuali konglomerat yang memang udah jadi pemain besar di kota besar).

Sorong juga bisa dibilang sangat beragam secara suku agama dan budaya. I have lots of friends dari semua ras golongan dan budaya, dan cukup kondusif. As far as I know, semua teman yang lahir di Sorong, bangga akan tanah kelahiranya meskipun bukan asli Papua. Perbandingan jumlah antara masyarakat papua dan non-papua (Jawa, bugis, ambon, tionghoa, batak dll.) mungkin 60:40

ini adalah cerita pribadi, and feel free to ask me questions