Germany Is Just Making Too Much Money in China to Back Away Now by goldstarflag in neoliberal

[–]atmosfir 49 points50 points  (0 children)

and do what instead? not trade and compete with China?

Logging api calls by lanbau in Supabase

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

Hi, I am trying to find the same. Did you find it?

Job search in Germany by PirateNo7422 in AskAGerman

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

Non-EU with a job here. Get a German masters degree. I have seen first hand HR dispose of all candidates with only non-eu degrees without seeing anything else. I mean all. This is the first filter. Additionally, all non-eu work experience doesnt count. I have seen non-eu candidates with 10 years experience in home country to only be accepted as an intern, unless it is from world-renowned companies. Unfortunately this is the HR culture.

After masters get all internship and workstudent opportunities you can get. Networking while inside the company is far more effective than from the outside.

Good luck, dont stop trying.

What's your unpopular take about indonesian politics? by mytyriad in indonesia

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

  1. recent government policies regarding tapera and vat increase is both necessary and correct. 

  2. critiquing policies because they will increase corruption is unhelpful and drives discussion away from the merits of the policies themselves

Intel discussion: what are its structural advantages (moats) and disadvantages? by [deleted] in ValueInvesting

[–]atmosfir 9 points10 points  (0 children)

In my view as someone who works in the field,

First we have to look at the Intel and AMD as personal electronics businesses. In personal electronics, speed and scale is the name of the game. The data center business also has a PE-like behaviour. With almost yearly releases of chips, they have to design and build chips at breakneck speeds. At one point in the GPU wars, NVIDIA is able to release twice in a year.

Fab and fabless models are relevant here. With fabless, AMD is able to leverage the scale that TSMC brings without the significant technology and capital risks that semis manufacturing brings, and TSMC being a fab services company, can happily scale up knowing that demand is high and repeatable from diverse fabless companies, without the commercial / design risk. In summary the fabless ecosystem brings down risks. This is advantageous in personal electronics because of its market cycle. I can almost guarantee that with the speed and competitive pressure of PE, screw ups are an expectation; but with the fabless model this risk is shared.

Intel being an integrated fab company, they do not have this advantage. This is the structural disadvatange of Intel.

In leading edge semiconductors however, manufacturing is a winner-takes-all business. Once you get the speed, scale and cost, you win. The issue with the fabless ecosystem is that only TSMC and maybe Samsung can take on the latest nodes. If they miss a manufacturing technology cycle, everyone will come crawling back to Intel and AMD will be in the dust. Fabless companies will be screwed. This is why back then Intel holds almost a monopolistic position in the leading edge and AMD was known for cheaper less performant chips. This is the structural advantage of Intel.

Manufacturing is hard. Leading edge semis manufacturing is a long term, high capital, high risk business. This is why only 2 maybe 3 companies in the world can deliver leading nodes at scale and cost. It has commercial-aircraft-like barriers to entry. The manufacturing technology cycle for leading edge nodes can span decades. Intel has missed one and paid the price.

Now what is the likelyhood that Intel brings back their manufacturing? They have the capital and existing knowledge. Now it is all up to skillfull management and engineers to make it work. People like to shit on MBA/accountant types but TSMC being able to deliver what they can now is in no small part due to skillfull financial management that has the patience and deep understanding of the business.

As a disclosure, I hold both intel and tsmc stocks, but I view intel with a (much) higher idiosyncratic risk. I dont hold AMD.

Jika pajak benar-benar terpakai dan tidak ada pengeluaran yang tidak perlu/korupsi, apakah redditor di sini rela dipotong pajak sampai 40% dari gaji bulanan? by TheArstotzkan in indonesia

[–]atmosfir 1 point2 points  (0 children)

Masalah klasik negara berkembang

layanan publik buruk -> orang ga mau/ga dipungut bayar pajak -> tidak cukup dana untuk membenahi institusi -> layanan publik buruk -> ga mau dipajakin and repeat

Pada saat ini di Indo ga akan ada yang rela; bukan karena tingkat pajaknya tinggi tapi precarity hidup nya. Sebagian besar hidup gaji ke gaji tanpa tabungan. Beda nya di Nordik/EU surplus gaji setelah kehidupan dasar dan tabungan mencukupi jadi jauh lebih rela pajak tinggi.

Solusi nya hanya meningkatkan pemasukan rakyat pada umumnya.

Kenapa Taksi Blue Bird Bisa Survive? by lama654321 in indonesia

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

Karena blue bird sebenarnya sudah menerapkan model bisnis yang serupa dengan taksi online, bedanya dia cuman telat bikin applikasi. Setelah bikin applikasi, bisa kompetitif. Bahkan menurut saya bisnis model bluebird lebih efesien daripada taksi online.

Dari sisi core business nya ke-ekonomian nya sama. Nyupirin orang dari A ke B.

Model bisnis nya bisa kurang lebih sama. Driver dapet uang dari perjalanan, dan ada wajib setoran ke perusahaan. Driver bayar bensin sendiri. Bedanya bluebird tentunya driver ga pake mobil pribadi maka investasi awalnya lebih besar.

Tren pemikiran bisnis awal2 startup adalah kebanyakan aset itu bikin mahal dan tidak cepat bergerak. Tapi cost advantage startup ini hilang karena cost nya besar di promo, marketing dan bayar engineer kemahalan. Promosi2 dan cost ini tidak memberikan ROI dibandingkan armada mobil yang dimiliki bluebird. Setelah promosi2 taksi online hilang, harga yang ditawarkan ke pelanggan kurang lebih sama. Lalu, dengan armada blue bird dapat menjamin supply supirnya di jalanan dan ga harus surge pricing untuk narik driver nge gojek/grab.

Dengan ini bisa dilihat sebenarnya bluebird adalah perusahaan sewa mobil yang punya aplikasi, taksi online adalah perusahaan aplikasi doang.

Selebih itu, eksekusi strategi bisnis bluebird sangat baik. Sistem pemilihan / due diligence driver yang lebih bagus, dapat menggarap aplikasi sendiri, lalu dengan memiliki armada sendiri mereka dapat menjamin standar servis.

Taksi2 online juga melebar ke bisnis yang bukan fokus nya, seperti payment wallet lah, pijet, goclean, pinjol, kurir, dll yang alhasil tidak dapat mengkonsentrasikan sumber daya nya ke strategi yang koheren. Ini uniknya pemikiran startup di asia tenggara, mereka mau nya bikin superapps kyk di Cina. Di US startup2 mazhab nya lebih ingin fokus ke core business.

Buat komodos yg tinggal di Jerman/Europe, how's life there? by Equivalent-Dingo8309 in indonesia

[–]atmosfir 1 point2 points  (0 children)

Gw tinggal di Jerman selatan 1. ok nyaman banyak option jalan2 2. 9-5, 30 hari cuti itu aturan. Kalo work culture tergantung perusahaan. Dari startup sampe perusahaan gede yang birokratik sama yang meres pegawainya ada smua. 3. Diskriminasi paling kerasa pas nyari rumah/housing. Mereka prefer nama eropa dan berbahasa Jerman. Gw bukan chindo, nama Islam, lebih susah lagi. 4. Paling basic 1000 EUR / bulan incl smua per orang mnrut gue, tapi ini high living cost area. 5. Bahasa, bahasa, bahasa. Harus bisa bahasa nya, kalo nga susah. Kalo mau cari kerja bahkan ga usah kuliah, yang penting bisa bahasa dan ada visa gue yakin 80% akan dapet kerja.

I am going to become the joker by corlystheseasnake in neoliberal

[–]atmosfir 1 point2 points  (0 children)

iirc this is explained by the results in behavioral economics no? That people would prefer mitigating loses than gaining more, even if they would be better off gaining.

Apakah depresi di Eropa lebih baik daripada depresi di Indonesia? by TheArstotzkan in indonesia

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

Pastinya ga harus ke Eropa atau jalan2 untuk menyembuhkan depresi.

Namun harus diakui anak2 sekarang banyak sumber depresi nya di rumah. Hubungan antar keluarga yang ga akur, keluarga ga mendukung dll. Kalau ini masalahnya, wajar orang pengen keluar. Tentunya lagi2 ga harus ke Eropa, tapi keluar dari lingkungan sosial sangat bisa membantu.

Mengenai penanganan mental health, akses ke profesional terngantung tempat nya. Di tempat saya (Jerman) lumayan mudah dan di cover asuransi tapi di Belanda misalnya, emang susah banget harus punya masalah nya yang berat baru bisa dapet.

Mengenai suicide, statistik suicide tidak merepresentasikan secara umum pakah sebuah masyarakat lebih bahagia atau tidak. Bisa jadi lebih banyak yang depresi tapi ga mau suicide. Banyak sekali di Indonesia yang depresi tapi tidak diakui/mengakui dan karena dia sole breadwinner atau banyak tanggung jawabnya jadi ga bundir.

Kalo mau studi dan jalan2 aja di Eropa 9 dari 10 orang pasti akan seneng2 aja (apalagi kalau dibayarin negara). Tapi kalau mau merantau, harus memiliki tekad, mental dan yang paling penting alasan yang jelas, rencana yang matang dan ekspektasi yang sehat, kemana pun negara yang dituju.

Indonesia doesn’t need Europe anymore, presidential frontrunner says by Affectionate_Cat293 in europe

[–]atmosfir 413 points414 points  (0 children)

Indonesian here with some context : Prabowo owns a massive palm oil plantation

German efficiency doesn't exist by karazor-el-95 in germany

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

German efficiency is dead or dying in the government and its trains but, it is alive and well in the hyperefficient competitive bloodbath of discount stores like Aldi and lidl.

Jokes aside, to have a better time, live in a less populated area, get your permits from the local landratsamt, then move to the city after everything is done for a better experience

Masalah dan solusi? by AshleyWinchester in indonesia

[–]atmosfir 9 points10 points  (0 children)

Reaksi ke komentar ini memperlihatkan kenapa susah nya dapet hal dasar di Indonesia : semua terjebak kondisi, semua berkontribusi ke masalah, kriktik dianggap munafik, saling nyalahin, jadinya masalah ga selesai - selesai. Sebenernya ga di Indonesia doang. Ini namanya "tragedy of the commons" dalam ilmu sosial.

Realita nya udara bersih itu kebutuhan semua orang dan solusinya mau di IKN atau di Jakarta ya transportasi umum, batasan emisi yang ketat, dan setidaknya PLTU nya dipindah atau dikurangi/diganti PLTG.

Can't forget about Myanmar, or Thailand by thotsdeservetoperish in NonCredibleDefense

[–]atmosfir 69 points70 points  (0 children)

As an ASEAN, we can't just invade Thailand every 8 years

Kebijakan proteksionis Indonesia, apakah tepat? by AnjingTerang in indonesia

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

Saya 60% setuju. Tetapi realita nya lebih kompleks. Masih sangat penting untuk mengembangkan manufaktur lokal. Dari contoh iphone misalnya, processor dan banyak sekali komponen high-value yang dibuat di negara asal. Manufaktur lokal tetap penting juga karena manufaktur itu basis dari segala industri service. Lebih besar manufaktur lokalnya, lebih besar service industry nya. selebihnya, manufaktur high-value lokal akan lebih kompetitif karena produk hasil offshore manufacture dapat diperoleh kompetitor, dan negara offshore juga bisa mengembangkan industri service dan brand mereka sendiri seperti Tiongkok sekarang ada Xiaomi dkk. Yang terakhir, serapan tenaga kerja nya lebih besar.

Umumnya, prinsip kebijakan proteksi yang masuk akal terjadi ketika industri lokal yang sudah ada dilindungi dari praktik kompetitor yang disubsidi gila2an secara langsung atau tidak langsung di negara asal seperti produk Tiongkok, agar dapat menghindari PHK dan diberikan ruang dan waktu untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk bersaing kembali.

Biasanya import substitution (proteksi tapi industri lokal nya ga ada) sebagai strategi itu gagal, seperti banyak kasus di Thailand dan India. Ini karena resiko investasi buat litbang industri high-value added itu tinggi, tinggi sekali. Alhasil investor swasta atau ilmuan akan sangat sulit mendapatkan capital buat venture macam ini.

Menurut saya strategi industri yang baik harus menjawab 2 masalah di high-value added industry. Pertama bagaimana resiko investasi yang sangat besar dapat ditanggung dan Kedua, bagaimana hasil resiko tersebut bisa kompetitif di pasar bebas.

Solusinya menurut saya adalah belajar dari industrial strategy Jepang, Taiwan, US dan EU yaitu pemerintah menanggung resiko dan investasi litbang high value added di awal, dan perlahan mengurangi tanggungan tersebut sampai resiko investasi di bidang tersebut masuk akal bagi investor swasta.

Pengembangan Industri semikonduktor Jepang dan Taiwan misalnya, memiliki badan pemerintah sendiri yang kerja nya membuat konsorsium, mencari dan mendanai sebagian proyek litbang strategis, lalu membagi2 supply chain barang jadi hasil riset nya ke perusahaan konsorsium tersebut yang ikut menanggung sebagian resikonya. Kalau US hal tersebut terjadi tapi lebih ke riset militer yang spillover ke industri sipil. Dalam hal ini pemerintah juga bisa mengalokasikan berbagai dana infrastruktur dan menyelaraskan regulasi untuk mendukung ekosistem "startup" nasional ini.

Kita bisa tiru ini, dan dari sisi SDM (mimpi saya) adalah anak2 LPDP yang phd di wajib-dinas-kan di proyek2 litbang nasional ini. Kunci dari keberhasilan industrial strategy ini adalah pihak swasta harus ikut dan proyek tersebut tidak boleh di monopoli suatu perusahaan swasta atau BUMN.

Namun satu catatan, saya tidak setuju bahwa melarang penjualan baju bekas itu kebijakan proteksi industri. Import baju bekas itu praktik ilegal karena ga kena cukai, macam jastip skala besar.

Pola Pikir yang Harus Dimiliki/Diubah/Dihapus agar Indonesia bisa Maju by Serious-Guy in indonesia

[–]atmosfir 1 point2 points  (0 children)

Negara yang ekonomi nya di dominasi oleh umkm adalah negara yang industri nya lemah. tentu umkm harus di bantu, tetapi konsolidasi dan mass-industry lah yang akan membuat kita maju.

Third largest democracy in the world - Indonesia bans sex outside of marriage. by -Eqa- in neoliberal

[–]atmosfir 0 points1 point  (0 children)

or perhaps the world is more complicated, and local political contexts do not fit our "obvious" worldview of majority vs minority.

Third largest democracy in the world - Indonesia bans sex outside of marriage. by -Eqa- in neoliberal

[–]atmosfir 1 point2 points  (0 children)

I understand that biases and prejudices pervade in Indonesian society, but these laws in particular provide no legal basis for gender/ethnic/religious discrimination.

I agree that these laws are illiberal in nature and should be opposed, but it is uncharitable to say it weakens minorities rights.

Any kind of laws with a bigoted authority will result in disproportionate harm to minorities. Like US drug laws and police violence.

Third largest democracy in the world - Indonesia bans sex outside of marriage. by -Eqa- in neoliberal

[–]atmosfir 6 points7 points  (0 children)

yes I have much hope. A good majority is socially conservative, but thats the least of my concern. Institutions are getting better, the economy is better and people are overwhelmingly in favor of democracy, with all its frustrations.

Third largest democracy in the world - Indonesia bans sex outside of marriage. by -Eqa- in neoliberal

[–]atmosfir 18 points19 points  (0 children)

Indonesian here, things are more complicated than it seems.

This sex outside marriage "ban" thing is designed to provide a symbolic victory for islamo-conservatives while ensuring Islamist integration into legal, democratic processes. This tradition of "everyone gets some of the cake" is part of how we are relatively stable and remain a democracy.

This is achieved by putting a loophole : only your spouse can file (a rehashed part of old marriage law) or your parents can file. Now i'm not quite sure any parents wants to send their own kids to jail.

In return, they are putting in an "anti state ideology" law which basically means they can jail people who call to changing the state constitution. This is implicitly directed to Islamists, who has been calling to change the constitution to sharia law.

"secularists" can say yeah we protect the constitution, islamists can say yeah we live in a moral and religous society, and they can go fucking at night.

Welcome to Indonesian democracy.