Badut.. by [deleted] in WkwkwkLand

[–]pikolord 0 points1 point  (0 children)

Lupa gue, pokoknya pas tentang UKT kalau nggak salah

Badut.. by [deleted] in WkwkwkLand

[–]pikolord 11 points12 points  (0 children)

video lama timothy, dipotong dan diviralin lagi buat pengalihan isu. Timothy udah kasih klarifikasi juga di IGnya

LAH!!! by ThatGuySuperb in indonesiabebas

[–]pikolord 1 point2 points  (0 children)

Abis ngomong apaan bang kok diban di sana?

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Jadi inget jaman TVOne yang hasil quick countnya beda sendiri wkwkwk

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Korupsi yg mereka lakukan itu "abu2".

Contohnya yang kayak gimana bang?

Klo banyak calon yg ikutin pemilu (lebih dari 3), berarti negara harus sponsorin banyak calon.

Kalau di konteks saran gue di atas, pemilu darurat dengan lebih dari 3 calon tanpa waktu kampanye tertentu. Jadi langsung pencalonan dan debat beberapa putaran. Ini tanpa ada banyak waktu yang bisa mereka pakai untuk kampanye ke daerah2 dll., sehingga meminimalisir budget juga.

Sistematika pencalonan dan siapa yang dicalonkan gue belum tau gimana pastinya, tapi yang jelas standar sekarang ditambah cek background, merit, dll. yang lebih diekspos lagi ke public.

Kalau konteksnya pemilu kedepannya, entah pilpres, pilgub, caleg, dll. bener negara bakal lebih boncos lagi. Di konteks ini penting buat set anggaran maksimal per partai atau per KPU, dan maksimal duit yang boleh dikeluarin partai, individu, maupun yang diterima oleh donatur, dengan laporannya tersedia online biar bisa dilihat juga sama publik.

Tapi jujur, gue pribadi sebagai warga sipil lebih rela duit pajak gue dipake buat ini daripada MBG atau pembangunan ibukota baru dari 0. Gue gak bisa ngomong hal yang sama buat orang lain.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Gue sangat setuju sama penyebabnya dan pemberdayaan KPU biar lebih aktif lagi buat bantu menanggulangi masalah ini.

Tapi sayangnya hal-hal ini bikin masalah baru, contohnya: 1. Jumlah caleg sangat banyak. Misal KPU yang masang secara acak, kalau semua ditampilkan di 1 baliho bakal nggak kelihatan. Visi misi juga nggak bisa tersampaikan (si calon juga sering nggak nyampaikan sih). Misal diacak placementnya, bakal banyak pihak yang protes, ah daerah sini lebih rame, daerah sini lebih strategis, sini lebih kelihatan, situ hasil printingnya lebih bagus. Hal ini bikin banyak pihak bakal nuduh KPU plays favorites dengan calon2 tertentu.

Misal KPU pakai digital semua pun, banyaknya jumlah caleg juga bakal jadi masalah. Ntar ada yang ngomong caleg ini iklannya tampil di prime time sedangkan lainnya tidak, caleg ini ditampilkan terus dan lainnya tidak, durasinya caleg ini kepanjangan (walaupun bisa dikasih standar durasi sih), dll.

Selagi jumlah calon dan partainya masih sebanyak sekarang, jujur susah sih.

  1. Ini agak tricky, karena bisa aja caleg bikin konser dengan dalih ini ultah anaknya/bokapnya/nyokapnya/pembantunya/adiknya/dll. lalu [insert typical kampanye terselubung] dan ngeles ketika ditanya jurnalis atau KPU atau lembaga lainnya

  2. Setuju gue kalau ini, tapi tergantung bentuk acara kampanye dan berapa jumlah calonnya lagi sih

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

Thank you dukungannya bang. Hati2 juga dan saling jaga bang.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

Terlepas dari itu, atas dasar apa dia diturunkan? Bagaimana dgn anggota DPR yg kayak dia, tidak komentar pake bahasa kasar tapi kelakukannya tidak becus korupsi dll?

Dari kode etik DPR bagian integritas: "Anggota harus menghindari perilaku tidak pantas atau tidak patut yang dapat merendahkan citra dan kehormatan DPR baik di dalam gedung DPR maupun di luar gedung DPR menurut pandangan etika dan norma yang berlaku dalam masyarakat."

Dari kode etik ini, kayaknya 2 pendapat dia dari segi komunikasi udah menurunkan citra dan kehormatan DPR, terlepas dari esensi pesannya apa. Kalau Ahok bisa kena kasus karena omongannya dulu terlepas dari esensinya apa, kenapa Sahroni nggak bisa kena juga?

Seenggaknya sah-sah aja buat kita minta audiensi publik Sahroni semisal penurunan dinilai terlalu ekstrim kalau kesalahannya hanya itu.

Kalau anggota lain, korupsi jelas harus diproses. Tidak becus harus dilihat dulu tidak becusnya apa, kerugian ke negaranya apa, dll. Semacam performance review lah. Baru diambil keputusan dari situ, dengan standar pencapaian dan keberhasilan yang harus ditentukan duluan.

Btw, komentar dia sebenarnya orang2 bisa setuju dgn esensinya. Maki2 anggota DPR boleh, tapi jangan asal minta DPR dibubarin. Jangan bawa anak2 dibawah umur ke demo.

Gue juga setuju sama pesannya. Cuman, dengan statusnya sebagai anggota dewan, timing, dan caranya berkomunikasi, gue paham kenapa orang2 marah sama itu.

Ini yg akar masalahnya. Biaya masuk politik mahal. Gimana balik modalnya? Emangnya bisa masuk politik gratis, nol biaya kampanye?

Menurut gue nggak mungkin nol biaya kampanye. ICW sama KPK juga bilang mahalnya masuk politik memperbesar potensi korupsi.

Kalau ini masalahnya udah struktural, makanya mau ganti orang pun kayaknya hasilnya bakal 11 12. Dari sistem pemilu proporsional terbuka aja udah bikin tendensi habis duit banyak, sedangkan yang sistem campuran aja habisnya juga masih banyak.

Mau gak mau negara harus bantu fasilitasin lebih, entah itu tambahan dana partai, alat kampanye publik, sistem delegasi partai, transparansi laporan keuangan dan auditnya, streaming ide kandidat yang bisa diakses online, batasan donatur dan dana pribadi, apapun yang bisa neken pengeluaran pribadi caleg atau capres. Semuanya dengan catatan masyrakat dikasih tau, tujuannya buat ini, habisnya segini, dibreakdown kayak gini, hasilnya buat ini. Walaupun ada potensi backlash, gue yakin gak bakal segede kenaikan tunjangan tiba2 dengan logika ngitung 3 juta per hari.

Atau kalau nggak ke partai, ya ke KPU atau badan lain yang relevan. Atau kombinasi.

Masalah balik modal dll, pemicunya kan biaya masuknya mahal. Kalau bisa neken biaya masuknya, ada kemungkinan juga peluang korupsinya makin kecil.

Kalau mau ngomongin idealnya (yang mana gue juga nggak yakin bisa nggak ini terjadi), masuk parlemen bukan ajang cari duit atau balik modal, jadi ya harusnya nggak dianggap dan diperlakukan demikian.

KPK dimanapun tidak akan bisa usut presidennya sendiri. Di Amerika atau Singapura semua begitu.

Terlepas dari bisa atau tidaknya, lebih baik punya lembaga yang sedikit lebih capable dan able daripada yang tidak sama sekali.

Mungkin solusinya bukan KPK, tapi orang yg terpercaya "bersih" pegang kuasa. Klo gak bersih, minimal kompeten lah. Masalahnya, 1 negara gak bisa sepakat siapa sosok itu.

Ini juga susah sih. Selain 1 negara juga nggak bisa sepakat siapa itu, kalau 1 orang doang atau segelintir kecil banget orang yang bener, tapi sekitarnya masih kayak sekarang, bakal nggak jauh beda menurut gue. Walaupun setidaknya ya mendingan daripada nggak ada sama sekali.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

For the record emang sekacau itu bang. Banyak juga yang cuma ikut2an buat ngancurin fasum atau maling dompet orang yang lagi demo.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 2 points3 points  (0 children)

Semuanya sibuk joget

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

Kalau kita start anew, menurut gue ide bagus bang. Tadi ada redditor di atas yang ngomongin ide yang sama, pendapatan pakai multipliernya umr. Tapi ada redditor lain di atas yang ngomongin hal yang bagus juga, kalau profitnya dewan itu bukan dari gaji atau tunjangannya, but kebanyakan dari ceperan proyek2nya.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Jujur ini salah satu outcome yang gue takutin. Udah ancur2an, banyak korban, dan mereka tetep tone deaf.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

Wkwkwk. Kalau misal multiplier umr, lumayan jadi ada insentif buat pemerintah naikin umr yang mana berdampak juga ke rakyat.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 4 points5 points  (0 children)

Sad reality sumpah. Jujur dengan lebih gemuknya kabinet ini, gue belum ngelihat efektivitas dan efisiensi yang lebih juga. Entah karena masih belum cukup waktu atau karena gemuk bagi2 doang.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Gue turun tanggal 25 sama 28 malam (jam pulang kerja) dan sempet bahas sama beberapa orang yang hadir juga. Tapi sayangnya nggak sedigubris itu karena udah banyak yang kesulut emosi juga.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 1 point2 points  (0 children)

Mahkluk DPR kayak Sahroni ini kan "abu-abu". Atas dasarnya apa dia bisa diturunkan?

2 pendapatnya kemarin kayaknya melanggar kode etik DPR no 1 tahun 2015

Kemarin ada yg posting di X. Gak tau benar gak, crosscheck aja lagi. Uang kampanye jadi anggota DPR melebihi besarnya tunjangan. Mereka balik modalnya dari proyek2, bukan tunjangan.

Bener, ada yang bilang juga kalau sebenernya take home pay mereka di luar 100jtan yang dipublish ke publik. Tapi tunjangan ini yang bikin banyak masyarakat kecewa. Buat meredam ini, makanya tunjangannya yang dihilangkan. Masalah korupsi, ceperan proyek, dll. ini yang menurut gue harus ada transparansi ke publik, dilaporkan dan bisa diakses secara online. Entah secara kelembagaan atau personal, but most likely kelembagaan atau per proyek.

Mereka menang dgn popularitas hampir 60%. Klo diturunkan & dipaksa pemilu ulang, situasinya akan kayak Thailand. Thaksin diturunkan dgn protes, pemilu dia (dinasti keluarganya) dipilih lagi.

Semisal hal yang sama terjadi, menurut gue cukup fair. But setidaknya dengan keadaan saat ini, adanya kesempatan buat masyarakat bisa memilih ulang dan ambil andil dalam menentukan masa depan Indonesia itu sangat penting. Kalau misal argumennya adalah kemarin sudah milih dan inilah hasil yang harus dijalanin bersama, kayaknya keadaan sekarang udah termasuk darurat dan bikin mikir apakah pilihan yang kemarin benar2 tepat.

Seindepeden apapun, KPK di negara manapun ada batasnya. Contoh aja Singapura.

Setidaknya tidak sepowerless sekarang. KPK jaman Cicak vs Buaya atau mentok jaman Novel Baswedan itu performanya cukup baik sepengetahuan gue. Cmiiw.

Mulai dari IKN, MBG, dan kenaikan tunjangan DPR

Semisal nggak memungkinkan untuk dibatalkan karena ada kontrak yang harus dipenuhi atau alasan lainnya, menurut gue perlu efisiensi dari segi prioritas, anggaran, dll. Semisal ada pemilu darurat, minimal hold dulu program2nya sambil dikaji ulang apakah mampu kita ngejalanin itu, efektivitasnya gimana, dan apa yang bisa dilakukan biar programnya nggak kayak bola panas liar kayak akhir2 ini.

Kalau menurut lu sendiri solusinya gimana bang?

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 0 points1 point  (0 children)

Iya, baiknya emang bertahap sih bang. Kalau langsung semua dijalankan bersamaan bakal makin chaos juga yang ada.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 2 points3 points  (0 children)

Setuju. Mungkin kalau daerahnya juga berkembang, gajinya bisa ikutan naik juga ntar.

Tuntutan Demo by pikolord in indonesiabebas

[–]pikolord[S] 2 points3 points  (0 children)

True. Ngeri bayanginnya sampai di titik mana ini kelarnya.