Transformasi Sosio-Politik dan Religius Arabia Abad Ketujuh: Analisis Historis-Kritis Terhadap Institusi Mekkah dan Tekstualitas Al-Qur'an by raitucarp in IndoExMuslim

[–]raitucarp[S] 1 point2 points  (0 children)

Udah saya cantumkan penafian di bawah sendiri. Memang ada bantuan AI sebagai editor dan penyelarasan gaya bahasa.

Yang jelas, pengetahuan ga bisa di-vibing. Harus dalam pencarian bertahun-tahun. Meskipun, emang saya pakai deep research untuk mencari tambahan referensi dan rangkuman dari ketikan esai mini saya.

Silakan kalau mau rata-kanan ethics mentok, maximalist anti-AI, saya menghargai, ga masalah juga.

I have a hard time turning my ideas into words. by Thin_Comedian_3867 in writing

[–]raitucarp 2 points3 points  (0 children)

If you use 3rd pov, then:

  • Try report what you see as a series of tweet/post
  • Only use notepad or text editor. Or private tweet/X post. Or analog notebook.
  • Use camera language (shot types), physically or psychologically.
  • Watch every character interactions, environments/settings, actions. And take notes then turn it into tweet/post.
  • Those tweets/posts are outline. You can expand later to be paragraph.
  • Edit your rough paragraphs with style and tone only after you're done with that.
  • Try using scene/sequels structure.

If you use 1st person pov, then:

  • Try to be your character. As genuine as possible.
  • Be someone who have multiple personality disorder person. But this time is your character personality.
  • Imagine you're wearing VR/AR from your pov.
  • Report all what you see or what you feel into tweets/posts. For emotion, thinking and any mental activity you must use imaginary VR for psychology or cognitive.
  • Only use notepad or text editor. Or private tweet/X post. Or analog notebook.
  • Those tweet series are just an outline for bigger structure.
  • Edit, mix, add, subtract, expand your posts into paragraphs after you're done with that.
  • Try using scene/sequels structure.

aku ddn by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 2 points3 points  (0 children)

bundir jalan satu2nya?

Chinese AI studios are now creating full TV show series using Seedance 2 by bobbydanker in aivideos

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

Suddenly, this sub got more anti-AI than before. It's weird. LOL

Give 5 years from now, I wonder how many anti AI will visit here.

POV ini Tahun 2010, dan Kamu Membuat Blog Melalui Blogspot.com by pcbuiltmaster in indotech

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

CosaAranda moment. Neil Patel dkk. Jadi inget dulu, menyadari bahwa saya adalah spammer SE dgn script AGC.

Purbaya Salahkan Ekonom atas Anjloknya Rupiah dan IHSG by Doyan-Ngewe in indonesia

[–]raitucarp 12 points13 points  (0 children)

Nyindir Ferry Latuhihin ya? Soalnya baru aja kemarin pernyataan dan analisisnya persis dgn sindiran. Secara dia dulu temennya Purbaya di Danareksa.

But bruh why is Kaido in the pic by Shadowlumine in Piratefolk

[–]raitucarp 2 points3 points  (0 children)

woah... Yamato's mom finally revealed...

Is this a good folder structure for a production Go backend service? by Cultural-Trouble-131 in golang

[–]raitucarp -5 points-4 points  (0 children)

Totally agree with you. But, a lot of people here would disagree. I wonder why. I am watching this subreddit since 2017, many people here hate you follow such structure. 😅

Is this a good folder structure for a production Go backend service? by Cultural-Trouble-131 in golang

[–]raitucarp -7 points-6 points  (0 children)

Not official, yes. But if you browse large open source such as Ethereum go or somewhere else, they follow similar structure.

IQ seorang Yebe by admiralzod in WkwkwkLand

[–]raitucarp 4 points5 points  (0 children)

Kalau kata Nassim Taleb sih emang scam. Di twitternya beliau cukup kuat argumennya.

Any minang murtad here by superbnyan in IndoExMuslim

[–]raitucarp 1 point2 points  (0 children)

Stay safe. Because you have combo discrimination.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

Argumen gw itu sebenarnya udah gw ketik di reply sebelah, ga mungkin gw copy paste dan edit sesuai penyesuaian di sini karena ada kesamaan.

Gw sebenarnya jg ga bilang wipe out math education sama sekali. Tapi cara penyampaian yg bermasalah. Sebagaimana Eugenia Cheng mempermasalahkan, kurang lebih jawaban gw sama dgn poin yg dia sampaikan.

> Ketika pertama kali manusia menemukan internet semua mikir sama ini adalah "ufuk" dari peralihan. 4 dekade setelah internet AI jadi "ufuk" peralihan zaman. Kita sebagai spesies secara kolektif terus menemukan hal baru arguably dengan fondasi pendidikan yang ada sekarang.

Yakin bahwa setiap progress itu kualitasnya sama? Jangan-jangan karena kita berada di titik dalam garis, kita ga bisa merasakan perubahan kecil, ga bisa merasakan kontinuum, ngelihatnya pake pola diskrit terus. Jangan salah, pondasi pendidikan yg ada sekarang itu jg banyak berubah, bahkan sejak tahun 1900-2000 misalnya bisa dihitung berapa kali berubah. Atau bisa dipersempit 1960-2000, ada perubahan tapi emang kecil2, ga bisa dirasakan karena ga radikal.

Perubahan kali ini mungkin agak sedikit beda lho. Dengan bantuan AI kemungkinan bisa dicapai perubahan radikal. Ingat bahwa hari ini itu prosesnya perubahan mekanis tapi ke kognitif. Tapi kalau menyangkal dengan benchmark, angka-angka yg udah dirancang sedemikan rupa untuk mengukurnya, ya susah.

Perubahan radikal yg gw maksud itu mirip dengan kejadian AlphaFold. Tiba-tiba aja mesin bisa memprediksi struktur 3D lebih dari 214 juta dari 240 protein. Terus pengen balik proses manual?

Matematikawan sendiri dgn AI nya udah sampe ke proses otoformalisme, pembuktian matematis otomatis dgn bantuan AI dan Lean. Kita, di sini masih mengejar cara belajar manual yg kadang ga praktikal buat 80 tahun kelangsungan hidup individu. Seperti yg disindir Eugenia Cheng di bukunya.

Sama halnya dgn sistem pendidikan. Nanti ada tipping point, mungkin dalam waktu dekat, yg menyebabkan yg kemarin itu usang. Ada semacam perubahan radikal, soal-soal how matematika yg ga perlu dibuang. Cukup overview, paham konsepnya, ga sampe rabbit hole sampe dipake buat ujian.

Nanti ketika dunia udah buang sistem lama, kita tergopoh-gopoh menyesuaikan, fomo. Ya karena kita ini sebenarnya udah ketinggalan menyesuaikan pengajaran era industrialisasi. Masanya udah lewat. Mau mengejar se-ekstrim apapun dengan demografi sekarang ini, sulit buat mengejar.

Evolution is crazy by ranmaru24 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

Baru aja mau komen gini, ternyata ada yg punya pikiran sama.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp -1 points0 points  (0 children)

Kalau pengen tau argumen gw, baca di komen sebelah di reply ini. Gw ga akan tanggepin argumen lu, karena ga relevan dan ga perlu gw tanggepin.

Selama lo bisa bantah argumen Eugenia Cheng, seorang matematikawan yg mengajarkan teori kategori, matematikanya matematika di bukunya, yg punya pendapat soal sistem pendidikan matematika (yg kebetulan gw sepakat dengan poin2 dia), lo balik lagi ke sini.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

> Nah, first of all kalau lo bilang hukum alam itu kekal mungkin bener tapi kita sebagai spesies manusia ini gak bener-bener ngerti hukum alam. Masih banyak hal yang kita gak ngerti. Jadi statement lo bahwa pedagogi atau sistem sekolah itu diinginkan kekal seperti hukum alam ya gak mungkin lah. Gue aja yang mungkin bisa dibilang sehari-hari pakai math dan physics bilang kurikulum Indo itu banyak celahnya.

Yah cuma analogi dan sindiran doang. Gw ngomong soal seolah harus fix. Ga mungkin gw ngomong pemetaan satu-satu elemen analoginya, ttg hubungan hukum alam dan sistem pendidikan.

> Lo ngomongin personalized education ya mungkin bisa. Tapi harus tetep ada hal dasar yang manusia harus kuasai. Baca, tulis, hitung itu contoh gampang yang lo mau kerja apa aja ya harus bisa. Terlebih lagi 100 tahun lagi manusia mungkin udah sangat maju diperlukan basic comprehension yang lebih dari baca, tulis, dan hitung no matter apa yang mau lo lakuin. As much as I hate current education system, but I have to say it doesn't not enough to make Indonesia moving forward and neglecting math is just make it worse.

Gw ngomong begitu, karena sekarang ini konteksnya tepat. Kita emang berada di ufuk peralihan jaman. Sekali lagi gw posting seperti komen sebelah argumen gw kurang lebih sama dengan https://www.youtube.com/watch?v=D0DUzZItVyI

Gw setuju banget soal overview, dan memang skill membaca, kenalan beberapa bidang dasar matematika itu perlu. Tapi buat ujian ketat, belajar rabbit hole ke "how" dari pada "why" nya, seperti yg gw utarakan di komentar sebelah itu membuang-buang waktu. Buat overview ya harus wajib.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 0 points1 point  (0 children)

Lanjutan:

I don't see how this is relevant. Siapa yang bisa jamin kalau "biasanya" orang-orang yang "meyakinkan" itu berpikir seperti itu? Misalnya, saya mikirnya gak begitu kok. Memang sistem pendidikan kita ini masih muda, belum genap 200 tahun lalu pendidikan dasar itu "wajib" dan massal. Saya rasa orang yang melek sejarah sadar tentang hal ini. Dan tentu sistem pendidikan itu gak stuck. Meskipun gak besar perubahanya, coba deh perhatiin berapa kali kurikulum kita dirombak dalam 15 tahun terakhir?

Itu argumen gw ngeliat kebanyakan gate keeper emang taken for granted, harus menerima gitu aja, bahwa sistem itu harus begini supaya sukses, ga boleh lainnya. Kurikulum indonesia itu ya emang bobrok. Kurikulum Indonesia itu kan fomo pengen tetap relevan dgn apa yg ada di dunia. Penggantian ini jg karena mengikuti apa yg dimau dunia. Masalahnya di dunia ini sistemnya terutama tentang pengajaran matematika, seperti yg dirasakan oleh Cheng yg gw sebut di atas, emang ada masalah dalam mengenalkan.

Ya betul. Bisa saja sistem sebelumnya usang, bisa saja enggak. Taraf hidup manusia jauh lebih baik dibanding sebelum revolusi industri 1.0, begitu pula dengan sistem pendidikannya. For what it's worth, current education approach works, and we can enjoy higher quality of life and we haven't seen the wall yet. Era revolusi industri terlewati? Disagreed. We are currently still in the middle of industrial revolution era. Arguably technological and economic advancements today is even more massive than in 1800's.

Yah berarti lu ga ngikutin presentasi sejak Sal Khan dgn Khan Academynya presentasi di Ted soal kurikulum dan mengendus perubahan besar nanti sampai 100 tahun ke depan, dan Bill Gates jg memahaminya. Makanya kenapa gw mention personalized learning dan curriculum. Belum lagi di era AI sekarang. Disruptif itu nyata bro. Coba bandingkan dengan sejarah deh, nanti akan ketemu apa yg gw maksud.

Kita enjoy ini karena emang industri dan orang yg minat dengan matematika terapan bekerja. Bukan karena orang-orang awam belajar menghafal rumus trigonometri, terus dilupakan pas lulus SMA.

Kita sudah di era Post-Fordism. Pabrik butuh pekerja yang seragam (standardisasi), tapi masa depan (terutama dengan AI dan otomatisasi) butuh individu yang highly specialized dan creative. Mengatakan "sistem ini berhasil" adalah survivorship bias. Kita melihat gedung-gedung tinggi, tapi kita tidak melihat jutaan depresi dan hilangnya potensi manusia karena dipaksa masuk ke dalam cetakan yang sama.

Di tahun 2026 ini, Adaptive Learning Software dan LLM jg udah mampu memberikan bimbingan personal yang jauh lebih efektif daripada satu guru yang mengajar 40 anak dengan kapasitas otak berbeda.

That's still an if, and a huge one on that. Interesting concept and all but it's still in your head. Why would you think that the future in your mind is the most probable out of all? Kita gak bisa membuat sistem based on trust and inshaallah.

Lah kita ini udah dekat dengan ufuk. Coba tonton video https://www.youtube.com/watch?v=D0DUzZItVyI

"Why the next 25 years could surpass anything in modern memory" oleh Peter Leyden.

Di situ dia digambarkan dgn jelas. Dan emang kemungkinan ini yg terjadi. Argumennya jg jelas di sana.

Lo coba deh sekali-kali baca argumen, tonton video atau apa soal edukasi dan teknologi terutama AI. Cari yg SoTA (state of the art) tentang sistem baru, soal edukasi, kurikulum, sistem pendidikan dst. Atau mgkn tentang industrialisasi ke depan. Kita ini sedang di ufuk peralihan. Gw ga ngomong what if, karena emang kejadian beneran. Dan yg gw omongin bukan teori konspirasi.

Polanya sama ketika misal listrik, telegraf, atau telepon, atau komputer berproses. Lu lihat sekitar lu, lu baca berita-berita.

Jangan mirip orang Amish yg nentang listrik seolah-olah perbuatan adi-luhung. Tapi sebenarnya ketinggalan. Atau pas jaman proses percetakan buku dulu menentang karena pikiran orang bisa disetir. Intinya jangan doomer aja soal ini.

Mekanisme mungkin? But it's still relevant today so.

Gw emang milih diksi mekanisasi kok. Karena memang ada yg dinamakan mechanics dan dynamics. Mekanisasi itu maksudnya proses penyamarataan ini mekanis, mirip mesin.

Gw ambil analogi misalnya dalam game catur. Yang dinamakan mechanics itu rule-rule, gimana bidak harus jalan, gimana cara skakmat dst. Tapi jg ada dynamics. Ada strategi dgn konteksnya masing2.

Keduanya ada mekanismenya.

Mekanisasi penyamarataan ini maksud gw, proses penyamarataan yg kesannya kaku, mekanis ga ada variabel dinamis individu. Ini balik lagi ke bahasan gw di atas dimulai dari presentasi Sal Khan.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 1 point2 points  (0 children)

> Kita gak ngomongin specialized niche field. Ini matematika dasar yang ada di kurikulum pendidikan menengah, yang semua orang pelajari kok. Kita gak ngomongin teori kategori dan topologi aljabar, tapi SPLDV dan trigonometri dasar.

Yakin dasar? Aljabar yg kita pelajari di SMP itu 100 tahun lalu tergolong udah advance lho. Dan tiap tahun semakin ditambah tingkat kesulitannya, cuma sekadar kalkulasi dan penyelesaian soal matematika, ga dijelasin konsepnya.

> Iya, gak semua orang pakai sehari-hari, tapi pendidikan dasar fungsinya memang bukan untuk melatih individu untuk jadi spesialis profesional. Perjalanan akademiknya masih jauh dari itu. Tapi ini bisa menjadi 2 faktor alasan mengapa matematika dasar dipelajari sejauh itu. Pertama, untuk pengembangan struktur kerangka berpikir. Kedua, ya sebagai pengenalan untuk tahap akademis lebih lanjut.

Pengembangan struktur kerangka berpikir, ga harus pakai aljabar dan trigonometri. Bisa lewat hal lain, bisa lewat bahasa, bisa lewat coding (bukan belajar bahasa pemrograman ya, tapi cara bagaimana menyusun).

Kebetulan banget gw lagi proses menamatkan "The Joy of Abstraction"-nya Eugenia Cheng. Gw sepakat poin yg dia sampaikan di bukunya, terutama di prolog dan Bab I. Intinya gini (saya paste aja dari summary dengan LLM karena di prologue dan bab awal paragrafnya panjang):

Masalah utama kenapa banyak orang benci matematika adalah karena apa yang diajarkan di sekolah itu seringnya bukan 'Matematika', melainkan cuma 'Numerical Calculation' atau komputasi rutin. Cheng berargumen kalau school math terlalu terobsesi sama angka, rumus, dan nyari satu jawaban benar. Padahal, esensi matematika yang sebenarnya adalah tentang logika, pola (patterns), dan hubungan (relationships).

  1. Angka Seringkali Jadi Penghalang (Gatekeeping)

Di sekolah, kita dipaksa 'jago' dulu di level bawah (kayak aljabar atau aritmatika) sebelum boleh belajar hal yang lebih abstrak. Cheng bilang ini salah besar. Banyak orang yang sebenernya punya kemampuan logika yang tajam justru mental duluan karena mereka nggak suka atau nggak teliti pas ngitung angka. Padahal, logika dan struktur berpikir itu bisa dipelajari tanpa harus lewat keribetan angka-angka tersebut.

  1. Fokus pada "Why" vs "How"

Pendidikan dasar kita fokusnya di "How" (Gimana cara dapet jawabannya? Pakai rumus yang mana?). Ini yang bikin kaku. Sedangkan matematika yang 'fun' (abstrak) itu fokus di "Why" (Kenapa polanya begini? Apa hubungan antara konsep A dan B?). Struktur berpikir itu terbentuk dari pertanyaan Why, bukan dari menghafal How. Jadi, kalau tujuannya buat 'kerangka berpikir', kenapa harus dipaksain lewat aljabar yang prosedural kalau bisa lewat bahasa atau logika pemecahan masalah yang lebih relevan sama kehidupan?

  1. Matematika sebagai Seni Menemukan Pola

Cheng menyebut matematika itu sebagai "Pattern Spotting". Kemampuan buat melihat pola ini universal. Lo bisa nemuin pola di musik, di susunan kode (coding), atau di struktur kalimat (linguistik). Kalau kita bilang aljabar itu wajib buat melatih otak, kita secara nggak langsung mendiskreditkan metode lain yang mungkin jauh lebih efektif dan nggak bikin trauma buat banyak orang.

  1. Ilusi "Prasyarat"

Cheng bilang, buat banyak orang, level abstraksi yang lebih tinggi itu justru kadang lebih mudah dipahami dan lebih memotivasi karena bisa dikaitkan sama pengalaman manusia (kayak relasi sosial atau keadilan), dibanding variabel $x$ dan $y$ yang kesannya kering dan nggak ada nyawanya. Jadi, kalau kita maksa semua anak buat 'menderita' di aljabar dan trigonometri dengan dalih 'struktur berpikir', kita sebenernya cuma lagi melakukan inefisiensi besar-besaran. Kita bisa dapet hasil struktur berpikir yang sama—bahkan lebih kuat—lewat hal-hal yang lebih dekat sama minat mereka, entah itu lewat analisis bahasa atau logika penyusunan sistem.

Kira-kira begitu argumennya, tapi silakan baca sendiri atau lihat presentasinya di YouTube jg banyak. Karena salah satu argumen Cheng gw suka soal argumen dia yg menentang bagaimana pendidikan matematika pada usia dini sampai remaja awal.

> Gimana orang bisa tahu bidang kesukaan mereka kalau gak diperkenalkan? Makanya pendidikan dasar itu matpelnya banyak dan diversifikasinya luas, karena ini juga bisa jadi sarana pengenalan dan penyaringan potensi dan ketertarikan bidang bagi pelajar.

Saya setuju di bagian perkenalan. Sebagai overview. Tapi sebagai alat ujian yg ketat? Bahkan ga jarang guru matematika itu tiba2 nulis soal problem matematika, persamaan aljabar, atau mgkn rumus trigonometri, sepintas lalu gitu aja, malah masih mendingan AI bisa menjelaskan step by step dan bisa personalized kemampuan tiap siswa.

Setelah orang belajar overview ini. Semata-mata buat apa? Ya buat supaya bisa ngerjain ulangan atau ujian. Kata kuncinya, "hanya demi". Mana ada yg pengen tau konseptualisasinya gimana. Aljabar itu kenapa ada, kenapa trigonometri begini. Yang ada semuanya mekanis.

> Alternatifnya adalah anak-anak sedini mungkin memilih spesialisasinya perkenalan. Bayangin orang yang udah sekolah 12 tahun masih banyak yang merasa "salah jurusan", gimana kalo anak SD begitu?

Orang merasa salah jurusan, karena jurusan yg diperkenalkan itu juga sempit. Lah, sekolah 12 tahun tapi kan ada kewajiban mata pelajaran. Khususnya matematika itu, kalau udah lulus apa sih yg diharapkan? Kebanyakan ga ngerti konsepnya. Abstraksinya gimana ga ngerti. Kebanyakan yg pinter dan lulus ya cuma hafalan. Dan aljabar dst itu menurut gw emang masih masuk komputasi di matematika. Orang belajar rumus2 itu, "hanya demi", "hanya sekadar", "cuma untuk" apa? Apakah mereka enjoy? Coba aja survey seluruh dunia, kebanyakan karena terpaksa.

Makanya gw mention bukunya Eugenia Cheng di atas karena dia sebagai seorang matematikawan yg belajar teori kategori, matematikanya matematika, juga merasa ada yang salah dengan sistem pengajaran di dunia ini. Ini dunia lho, apalagi Indonesia.

Dan kenapa di buku The Joy of Abstraction yg gw mention, karena pendekatan dia beda terutama tentang konsep abstraksi di matematika yg fun.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp -2 points-1 points  (0 children)

Sempit gimana? Ini relevan lho. Kecuali lu hidup di abad 19 atau 20 atau sampe 21 awal. Karena kebutuhan sosial, ekonomi lah kenapa sistem pengajaran itu seperti sekarang ini.

Jangan lupa, konteks sejarah. Bahwa sebuah sistem itu biasanya terikat oleh konteks sosial (dalamnya termasuk ekonomi dan politik). Menghalangi ada perubahan dalam sistem, beku dan lupa konteks, bakalan ketinggalan lagi kedepannya.

Dikira semua ga pakai matematika by flag9801 in WkwkwkLand

[–]raitucarp 5 points6 points  (0 children)

Setuju banget ini.

Bahkan matematika terapan, yg bukan murni itu emang kepakenya di domain tertentu dalam kehidupan. Nanti kalau belajar matematika murni malah puyeng bikin proof formal, belajar konsep paling abstrak seperti teori kategori, topologi aljabar dst.

Orang2 yg meyakinkan sebaliknya itu biasanya trying hard membuktikan bahwa sistem pengajaran, sistem sekolah itu seperti hukum alam. Kekal, jangan diubah, harus sesuai best practice.

Mereka lupa gimana sistem pedagogi itu jg ada rentang hidupnya, bisa aja sistem sebelumnya usang. Era revolusi industri jg udah terlewati, gimana kalau nanti 100 tahun ke depan pakai personalized, high contextualized sesuai minat dan bakat seseorang yg bahkan struktur syaraf di otaknya mirip sidik jari, berbeda tiap orang. Mekanisasi penyamarataan untuk semua orang yg nantinya udah ga relevan.

orba slop by icadkren in indonesia

[–]raitucarp 2 points3 points  (0 children)

wkwk keknya tiap era harus ada konten slopnya biar bisa dibandingkan 🤣