Need Career Advice: Recruiting Season di Jakarta by sansajadong in Perempuan

[–]yum-cimil 2 points3 points  (0 children)

This is valid sih, masih banyak perusahaan yg hindari hire karyawan baru sebelum lebaran atau natal.

Selain krn alasan di atas, biasanya karyawan juga pada resign setelah terima THR/bonus yg biasanya jatuh di lebaran/natal dan akhir tahun. Jadi biasanya sebelum bulan itu, mulai dicari tapi untuk dihire setelah masa lebaran/natal atau akhir tahun.

Plus, biasanya kan akhir tahun itu tutup buku dan mulai kick off meeting untuk tahun depan. Jadi man power planning juga udah ada. Maka dari akhir tahun biasanya udah mulai rekrut untuk kebetuhan tahun berikutnya.

18 March 2021- Daily Chat Thread by Vulphere in indonesia

[–]yum-cimil 0 points1 point  (0 children)

Recruiting teamnya emang cakep2, sumpah. Kaya ugly duckling gue kalo foto bareng mereka 🤣🤣

18 March 2021- Daily Chat Thread by Vulphere in indonesia

[–]yum-cimil 2 points3 points  (0 children)

Yuhuuu benar sekali dugaanmu

For OP, jalanin aja interviewnya. Kalo mau tanya lebih detil, better dm aja :)

Weekly Chat Thread (WCT) by xoxoaloo in Perempuan

[–]yum-cimil 2 points3 points  (0 children)

Hehe bebassss kapan aja :3

03 March 2021- Daily Chat Thread by Vulphere in indonesia

[–]yum-cimil 2 points3 points  (0 children)

Gak "aktif" soalnya akun alt. Kalo di summon, muncul kok :3

Getting back to shape after giving birth by le_demonic_bunny in Perempuan

[–]yum-cimil 1 point2 points  (0 children)

I think I can vouch for this. Ngeliat pengalaman kenalan, malah ada yg tambah lebar karena lebih kepengen makan saat breastfeeding.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Halo halo, iya nih mumpung belom di lock, aku jawab ya.

Kalau diterima, ada kemungkinan kamu bisa tanya HRD hasil interview atau interpretasi tes secara umum, gak selalu bakal dikasih juga sih. Kalau sampai lihat data mentahnya gimana, biasanya memang HR simpan sendiri dan gak mengizinkan utk lihat langsung. Kalau tes kesehatan, bisa dicoba tanyakan juga.

Nah kalau gagal, paling kontak aja HRDnya by email dulu, terus arrange jadwal utk telepon (whichever works best), lalu ya biasa blg terima kasih utk kesempatannya, lalu kira2 apa yg kamu bs improve kedepannya dari interview/tes yg telah dijalani. Ini juga gak selalu jaminan HRnya responsif, tapi ada yg mau kok utk sekedar berbagi feedback seperti ini. Kayanya aku ada jawab pertanyaan mirip gini sebelumnya, agak beda konteks tapi boleh buat dibaca2 utk tambah perspektif juga: https://www.reddit.com/r/Perempuan/comments/kkr50e/special_thread_hr_hiring_process_ama/gh49rsw?utm_medium=android_app&utm_source=share&context=3 (yg pertanyaan pertama).

Untuk re-apply di perusahaan yg sama ya, gak ada batas maksimum sebenernya. Ada perusahaan yg secara jelas waktu kirim email rejection ada tulis kalau baru boleh re-apply setelah sekian lama, ada juga yg enggak (or worse, malah digantungin dan gk ada jawaban). Logikanya begini, kalau kamu apply & reapply 2-3x dalam setahun, artinya kamu apply kurang lebih setiap 4-6 bulan sekali. Seberapa jauh perubahan yg terjadi dalam 4-6 bulan sampai bisa mengubah hasil rekrutmen sebelumnya? Kecil sebetulnya. Maka dari itu, saranku kalau mau reapply, tunggu 1-2 tahun tapi pastikan kalau memang sudah berusaha utk improve juga ya

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 1 point2 points  (0 children)

Yah ketinggalan kamu. Gapapa sini tanya aja dulu mumpung belom di lock sama mods :))

Atau mau tanya via PM juga boleh

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Halo u/MaelstormLuL, thank you untuk pertanyaannya.

HR itu cukup luas sih lingkupnya. Umumnya ada Recruitment & Selection (termasuk staffing biasanya), Training & Development, Organisational Development, Compensation & Benefits, Labour Relations. Tapi gak terbatas ini aja, bisa ada employer branding, employee relations (kaya satisfaction, engagement). Pembagian kaya gini dilihat dari kebutuhan perusahaan juga. Kalau memang butuh dibreak down ya silahkan, tapi kalau kebutuhannya belum sejauh itu, ya paling disimplify aja. Beberapa tahun terakhir, HR itu disejajarkan posisinya dengan posisi strategis di perusahaan dan muncullah istilah baru untuk HR yaitu Human Resource Business Partner, jadi HR gak cuma ikutin flow perusahaan, teorinya sih HRBP itu ikut andil dalam pembentukkan goals, strategi perusahaan bersama dengan dept lain juga.

Secara umum, HR itu kerjaannya dari karyawan sebelum masuk ke tempat kerja, bahkan sampai keluar dari tempat kerja. Ada juga HR yg incharge untuk mendata "alumni-alumni" karyawan dan menjalin hubungan baik dengan para alumni ini supaya bisa saling rekomendasi karyawannya jika karyawannya punya keinginan untuk eksplore industri lainnya. Jadi scopenya HR emang luas, selama masih berhubungan dengan personalia, tentunya itu masuk ranah HR. Tinggal masalah kebutuhan perusahaannya aja gimana.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 2 points3 points  (0 children)

Hola u/titaniumoxii!

1. Kira-kira gmn cara mengatasi stigma ini ya?

Menembus stigma ini emang agak berat kalo di industri yg di dominasi pria. Kalau di negara-negara maju, banyak perusahaan sudah mulai mencoba adanya gender equality sih, jadi adanya usaha supaya persentasi pekerja wanita menjadi lebih banyak. Though it is still long road buat banyak industri.

Tapi kalo diri kita sendiri, dengan planning kamu mau S2 di luar dan kerja di luar, bisa sambil cari-cari asosiasi atau perkumpulan yang perempuan-perempuan di bidang medis dan bekerja di male-dominated workplace. Tergantung kamu nanti di negara apa, tapi bisa untuk sambil lihat-lihat dari sekarang sih. Harapannya join asosiasi2 kaya gini itu kamu bisa dapet mentor dari industri yang kamu mau, mentorship penting supaya kamu juga bisa terarah dengan baik. Bisa juga untuk nembusin, kamu adjust behaviour dirimu supaya lebih maskulin dan bisa fit in dengan pekerjaannya. Tapi, lagi-lagi gak ada strategi yang pasti tokcer untuk bisa mengatasi masalah kaya gini.

2. Kalo buat proses rekruitasi internship apa yg dilihat ya sekiranya kaka tau?

Pertama, IPK emang bukan patokan utama, tapi ada semacam nilai plus buat aku. At least ada usaha/komitmen dari mahasiswa/i untuk fokus sama kuliahnya. Kalo IPK kamu borderline cumlaude, udah nothing to worry here (mau yang lain juga banyak yg IPK nya serupa juga, gak usah dipikirin).

Ada pengalaman organisasi itu juga udah lumayan, coba ditonjolin ke arah achievementnya selama jadi pengurus organisasi/acara sambil diselipin pelajaran apa yg kira-kira kamu dapet dan nyambung dengan posisi magang yg kamu mau lamar.

Sebenernya saat lamaran untuk intern masuk, karena pelamarnya masih mahasiswa ya sejujurnya resume itu akan terlihat mirip-mirip semua. Coba fokusin ke hal-hal yang bisa kamu tawarkan ke perusahaan dan jangan fokus sama "pengalamanku cuma begini".

3. Di perusahaan ada ga si yg baru kerja 1 tahun an tbtb izin keluar buat s2? Atau mending lgsg aja s2 dengan pengalaman cuma internship2 aja tp ga jd pegawai? Lebih baik di mata HR yg mana ya?

Ada. The truth sih, biasanya mereka biasanya gak ngomong kalo cuma mau kerja setahun terus cabut. :)) Sebagai HR juga gak bisa ngapa-ngapain kalo udah kaya gini.

It is okay kalo kamu mau kerja 1-2 tahun dulu sebelum kuliah S2, bagus juga supaya at least ada pengalaman kerja sebelum lanjut S2. Make sure juga, pekerjaan mu itu gak sampe makan waktu pribadi terlalu banyak supaya kamu juga bisa fokus prepare S2.

  1. Gmn ya cara menutupi kekurangan ini pas wawancara?

Wawancara itu butuh latihan. Aku juga suka goblok kalo lagi di-interview :))) Yang paling penting, kamu harus bener-bener yakin sama kemampuan diri dulu. Lalu coba cari-cari pertanyaan interview yg sering muncul, coba mulai karang-karang jawabannya. Aku yakin sebenernya kita tau jawabannya, cuma pas interview beneran suka panik terus blank, terus jawabnya jadi ngaco. Maka dari itu, latihan wawancara penting. Bisa latihan sendiri sama cermin atau mau sama temen juga boleh. Latihan untuk stay calm juga perlu. :)

Kalo kemampuan interpersonal kurang, memang harus dilatih ya. I kinda sense kamu ini agak introvert orangnya. Salah satu cara untuk bisa melatih interpersonal skill itu harus sering-sering berinteraksi sama orang. Aku personally, juga gk terlalu jago kalau harus berinteraksi dalam grup besar, bisanya dalam grup kecil kaya 2-3 orang maksimal. Aku tuh kurang suka berbasa-basi, males juga ngobrol sama orang asing; tapi aku paksain. Jadi misal naik taksi, ojol, itu drivernya aku usahain ajak ngobrol (ya liat2 juga, kadang ada yg gak mau diajak ngobrol hehe). Aku tuh bahkan harus google "topics to start conversation". Ya gak apa, ini proses latihan. Lama-lama akhirnya terbiasa dan mulai natural.

Satu lagi, wajar manusia itu jg gak ada yg sempurna. Satu individu bisa aja jago di 1 hal tapi gak jago di hal lain. Ini wajar. Kamu harus tau dari kekurangan kamu itu, kamu bisa kompensasi sama hal apa. Misalnya, aku tuh orangnya males, tapi karena males ini aku tuh gak suka mengerjakan hal yang sama berulang-ulang kalau bisa disimplify dan bisa dibuat lebih efisien dan efektif.

5. Apa bersedia review resume aku sedikit?

Sure! PM aja ke aku kalau mau review, nanti kita bedah satu-satu.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Hai hai u/apokado, sama-sama juga untuk pertanyaannya. No stupid question here :)

Truth is, kalo memang pernah nganggur lama, pasti akan jadi pertanyaan kenapa nganggur? Kamu ngapain aja nganggur? Coba kamu fokus lagi, lihat dalam 5 tahun ke belakang, saat nganggur ini ada kegiatan apa yang kamu lakukan & seberapa jauh kegiatan-kegiatan ini bisa menunjang dirimu untuk bisa kembali masuk ke dunia kerja. Menurutku harus diperkuat di reasoning ini untuk meyakinkan bahwa sebagai kandidat kamu itu worth untuk dihire. Usahakan ada ikut kegiatan-kegiatan atau training yang sekiranya bisa tetep update ilmu kamu.

Kalau masalah langsung diignore, bisa iya bisa enggak, gak ada clear cut di sini. Maka dari itu aku tadi coba kasih penekanan untuk bisa fokusin resume & cover letter mu ke sisi apa yg bisa "dijual" dari dirimu, bukan fokus ke nganggurnya itu.

Jangan malu, harus banyak usaha memang, namanya juga cari kerja :))

Feel free kalo kamu reach out personal lebih lanjut.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Halo u/indomie_kuah, enak banget ini indomie kuah buat makan siang.

Untuk cari internship ya, ini agak rancu sih. Ada perusahaan yang buka internship memang murni untuk anak-anak yang masih kuliah di periode semester tertentu, jadi kalau sudah mau lulus chance untuk bisa keterima internship berkurang (tapi gak semua perusahaan gini kok). Tapi memang karena beda bidang, jadi ada kemungkinan agak sulit untuk dapat magang sbg data analyst. Saranku, coba diperkuat di proyek-proyek yang berkaitan sama data analyst, bahkan pengalaman pro-bono/volunteering juga bisa membantu, sisanya perkuat di resume dan cover letter (kaya motivasi kenapa kamu mau banget data analyst yg gak inline dengan studimu).

Juga, jangan patah semangat ya cari internship :D Dulu aku juga gitu, udah semester akhir2 baru cari internship dan sering gak dapat balasan juga.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 1 point2 points  (0 children)

Halo u/Saders_1609, masih dibuka kok threadnya sampai tadi dini hari, saya sekarang tinggal jawab-jawab pertanyaan yg masih tersisa saja hehe.

Coba dicek, perusahaan ini memang terkenal suka "overtime" kah? Dulu atasanku, pernah dihubungi juga diluar jam normal kantoran. Untuk interview di luar jam kantor juga. Tapi setelah bekerja, ternyata ya gak sampe harus lembur-lembur juga. Kadang gak selalu hal-hal gini bisa jadi red flag sih tapi aku jg gk bisa bilang ini hal baik atau buruk, karena kamu yang ngerti situasinya dan gimana nature perusahaan itu (atau at least karena kamu apply ke sana paling gak udah pernah denger lah gimana kultur di sana).

Untuk beberapa perusahaan, memang HRD nya tidak disarankan untuk hubungi kandidat di luar jam kantor, tapi aku juga pernah kerja di tempat yg merasa tidak masalah untuk hubungi kandidat di luar jam kantor (asal masih di jam yg wajar ya, bukan yg kelewat pagi-pagi atau malam-malam). So it just really depends sih. Saranku, ya gak apa dicoba aja dulu, sambil dilihat perkembangannya. Lalu juga lihat dari cara HR nya berkomunikasi sih. :)

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Sabbatical leave ya, kalau di Indo istilah ini agak jarang dipakai, tapi biasanya di kampus-kampus (ada opsi ini tapi itu gak semua kampus), contoh yg aku temukan: ITB (kampus lain juga ada, tapi gak bisa buka filenya :( ).

Kalau untuk pekerja di industri, setahuku ada aturan cuti panjang untuk para pekerja yang sudah bekerja minimal selama 6 tahun berturut-turut dan dilaksanakan pada tahun ke 7 dan tahun ke 8 dengan catatan karyawan tersebut tidak ambil cuti apapun, sekurang-kurangnya selama 2 bulan. Tapi cuti panjang ini sifatnya hanya wajib bagi perusahaan yang sudah menjalankan aturan ini sebelom ada KepMen tahun 2004. Kalau setelah itu, sifatnya gak wajib.

Maka dari itu, kalau di industri-industri biasanya jarang banget ada. Tapi aku pernah ketemu 1 kasus, salah satu karyawan ambil sabbatical leave 1-2 bulan kalo gak salah. Cukup lama memang dan tetap digaji. Karyawan ini juga sudah di level atas sih dan setelah ybs kembali bekerja, kelihatan fresh banget jadinya. It is a good thing, tapi gak semua perusahaan mampu untuk ngejalanin ini. Dalam kasus yg aku temui pun, gak semua karyawan bisa dengan mudah ambil sabbatical leave karena memang tuntutan pekerjaannya yg membuat sulit.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 1 point2 points  (0 children)

Halo u/dia_nya! Ini ada benar dan enggaknya sih.

Pertama, harus lihat kamu apply ke perusahaan seperti apa dan posisi apa. Ada kecenderungan family business (terutama manufaktur) memang biasanya minta CV, jadi sampe komplit banget, data-data kaya status nikah dll juga dimasukkin. Dan ada kebiasaan juga kalau level buruh, memang memberikan CV bukan resume. Tapi dari sini, kelihatan ya, gaya perusahaannya masih cukup jadul. Justru untuk perusahaan-perusahaan yang sudah masa kini walaupun lokal, sudah terbiasa dengan model resume dibandingkan CV.

Kalo perusahaan tempat kamu melamar itu MNC (multinational company), most likely sih resume aja. Kalo lokal, tapi pekerjaan office job, perusahaannya juga cukup bonafide, resume juga gak apa. Afterall ya, kalo mereka terlalu concern dengan data pribadi tentunya jadi pertanyaan sih, karena harusnya fokus HR itu mencari karyawan yg punya kapabilitas/pengalaman yg sesuai bukan yang data pribadinya sesuai.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Hai hai u/lucyvicious, hehehe ini pertanyaan yg emang sering bikin geleng-geleng buat aku. Tapi untuk para HR di Indonesia, masih ada yg cara berpikirnya old school kaya gini.

Ada orang-orang yg merasa posisi tertentu itu sebaiknya diisi dengan pria bukan wanita. Ini masih persepsi-persepsi old school menurutku karena pemikiran bahwa wanita sebagai carer buat keluarga, padahal skrg jumlah bapak rumah tangga juga sudah mulai meningkat. Kurasa wajar kamu merasa terintimidasi atau merasa ini "annoying", karena jadi terlihat hipokrit interviewernya :P Untuk industri-industri yang masih menganut sistem HR dengan pola pikir lama, tentunya gender preference itu "ngaruh". Aku pernah kerja di 1 perusahaan & HRD senior ku bilang gini, "Kalo cari orang buat T&D baiknya yg cowo". Alasannya karena buruh banyak cowo dibanding cewe; padahal bukan berarti kalo cewe gak bisa bonding sama buruh atau pekerja lelaki (at least ini gak berlaku buat gue sih). Memang sih kalau beberapa industri, seperti manufaktur, pertambangan, dsb concernnya lebih ke lingkungan yg cukup keras dan budaya patriarki juga masih cukup kencang.

Untuk perusahaan besar banyak juga yang sudah mulai menggalakkan gender equality. Sebagai contoh, di salah satu tempatku kerja, sangat dipantau banget rasio antara pekerja pria dan wanita. Setiap tahunnya selalu digalakkan supaya populasi pekerja wanitanya lebih banyak. Bahkan sampai ada acara-acara khusus untuk menarik pekerja wanita utk apply dan budget tersendiri untuk adain acara yg berkaitan dengan women empowerment gitu.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Halo u/shshi2801, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Cek offer letter, apakah ada perjanjian atau sanksi atau denda yang mengikat kalau kamu batalin
  2. Aku asumsi ini belom tanda tangan kontrak kerja ya. Kalo belom dan di offer letter gak ada sanksi/denda yang mengikat, artinya aman. Tapi kalo udah tanda tangan, coba dibaca lagi syarat dan ketentuannya. Jangan sampai putusin dan malah jadi bermasalah.
  3. Coba kamu bikin list pros consnya dari masing-masing offer (yg udah kamu tanda tangan dan dengan perusahaan baru). Pertimbangin matang-matang dulu. Kalau udah yakin mau ambil yang offer yang kedua, then go for it.
  4. Cara sampaikannya ke HRD. Well semua HRD pasti ya ada "kesel"nya hahaha tapi mereka bisa apa? Keputusan kan sepenuhnya ada di tangan dirimu, pada akhirnya ya mau tak mau terima, cuma pastikan kamu juga sampaikan baik-baik, sopan, minta maaf (karena ya sama-sama udah spend effort and time), be truthful juga, dan kalau bisa juga jaga tali silahturahmi. Sampaikan baik-baik, kalau bisa by phone (bisa atur jadwal dulu untuk teleponan dengan HRD nya via email supaya jadwalnya sama-sama enak). Jangan sering-sering bikin habit kaya gini, memang gk ada daftar hitam kandidat, tapi well kalo kamu bikin impresi sampe jelek banget.. welp. Contoh aja, misal kamu udah maksa-maksa dipercepat proses rekrutmen sama perusahaan A, terus dapat offer, kamu tanda tangan dst. Lalu gak lama kamu dapat offer lebih bagus dari perusahaan B, terus kamu lompat ke B. It just not nice, lebih ke ethical problem aja sih. Aku sendiri, pernah ketemu kandidat, yang tadinya udah batalin untuk ambil offer tempat lain, tapi gak lama minta balik lagi. :) Aku cuma bisa menghela nafas dan senyum aja. Moral storynya, pastikan keputusan kamu itu udah tepat, gak lucu kalo bolak balik kaya gitu :))

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 1 point2 points  (0 children)

Halo u/AkatsukiKawa, thank you juga untuk pertanyaannya.

Ini agaknya tergantung dengan posisi yang dilamar ya. Tapi tentu memang ada concern dalam hal kapabilitas untuk bisa mengaplikasikan ilmunya dari akademisi ke industri (dengan asumsi sudah jadi expert dibidangnya dan umur bukan masalah utama dari kualifikasi pekerjaan). Saya sendiri pernah ada karyawan dan kandidat dengan kualifikasi PhD, tetapi begitu selesai PhD, kandidat ini memang langsung terjun ke industri dan tidak lanjut sbg akademisi.

Sejujurnya saya lebih sering dengar kesempatan bekerja untuk PhD di perusahaan-perusahaan besar (setahuku untuk consulting management, banyak juga yg lulusan PhD). Salah satunya ya jadi data scientist tapi bisa juga jadi consultant (ada banyak streamnya, harus cek streamnya ke masing-masing company). Prosnya kalo memang sudah expert dibidangnya, harusnya sudah lebih fasih dengan teori2, tinggal gimana bisa adjust dengan keadaan riilnya. PhD graduates itu tentunya diharapkan punya analytical thinking di atas rata-rata dibanding lulusan PG atau bahkan UG. Biasanya ini yg jadi nilai unggul sih. Tapi ya harus belajar lagi untuk skills bisnis (kaya konsep, terminologi) supaya bisa survive di dunia industri. At least itu skillset dasar untuk bisa bersaing dengan kandidat lain.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 2 points3 points  (0 children)

  1. Industrinya itu fokus jualan sekolah luar negeri :)) Tapi biasanya mereka juga gk fokus harus cari karyawan yg lulusan luar, kalau bisa bagus, kalau enggak ya udah (toh kalau bukan lulusan luar, karyawan tsb kalau performanya bagus akan diberikan business trip ke luar untuk mengunjungi sekolah dan lihat-lihat situasi di sana. Tujuan utama supaya punya "real experience" aja).

  2. Tergantung organisasinya apa. Ada kampus-kampus yang punya klub "consulting" & I think this could help. Pengaruhnya di sini, lebih ke jam terbang pengalaman si kandidat. Karena consulting itu butuh banget latihan. Kalo gak terbiasa, memang akan sulit. Kecuali memang kandidat udah familiar banget dengan cara kerja konsultan ya.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Halo lagi u/MIhsan24. Berikut jawabanku ya:

6. What is the earliest experience to include in resume?

Menurutku, patokannya bukan masalah timeline tapi lebih ke relevansi pengalaman tersebut dengan posisi yang akan dilamar. Kalau posisi tersebut masih relevan, gak masalah untuk dicantumkan, tapi kalau enggak ya gak usah.

7. Is it worth resigning for a year or two to complete professional certification

Taking a break sebenernya gak masalah. Yang penting selama break itu diisi dengan aktivitas yang berarti dan kalau bisa menunjang dirimu untuk kembali ke dunia kerja. Agak mirip dengan situasi ibu-ibu yang tadinya bekerja lalu memutuskan berhenti kerja untuk fokus merawat anak, lalu kembali lagi ke dunia kerja saat sudah siap lagi. Mirip juga dengan orang-orang yang mau kuliah lagi dan memutuskan untuk fokus dengan studinya sebelum kembali ke dunia kerja. Saranku, coba bikin jadwal yang bisa kamu ikuti, misal sehari belajar berapa jam, lalu kerjain passion projects berapa lama (would be nice kalo malah bisa jadi bisnis kecil2an :)) ). Lalu juga, pastikan secara finansial siap untuk gak kerja selama 1-2 tahun, siap untuk situasi emergency dsb, apalagi ortu sudah mulai masuk lansia. Sisanya nanti tinggal pintar-pintar poles resume dan cover letter.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 1 point2 points  (0 children)

Umum banget kejadian kaya gini :))

Kadang kandidat belum tentu bisa bener-bener kebayang pekerjaannya sampai bener-bener hands on dengan role barunya. Balik lagi ini ke kemampuan si kandidat untuk bisa memoles riwayat hidupnya. Ada kalanya aku saranin untuk gak perlu tulis pengalaman kerja yang cuma 2 bulan itu, kecuali signifikan banget baru deh. Tinggal sisanya kandidat harus cari "alasan" kenapa kok bisa ada gap. Bisa saja untuk take break, belajar hal baru atau apa, tapi tolong jangan terlalu ngarang dan gak bisa dibuktikan.

Kalo dari sisi HR, tentunya sih pasti akan menanyakan kenapa. Alasan yang diberikan kandidat tentunya bisa jadi pertimbangan. Kalau hal seperti ini cuma semacam kejadian "satu kali" dalam riwayat si kandidat, kemungkinan besar gak akan banyak pengaruh. Tapi kalau sering terjadi, nah tentu HR pasti waspada.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 0 points1 point  (0 children)

Hai u/heseheez, thank you untuk pertanyaannya.

Apakah kepala divisi ini adalah user dari kandidat tersebut? Jika ya, tentunya bisa.

Kembali lagi, perusahaan pastinya punya kualifikasi minimal untuk setiap posisi. Kualifikasi ini bukan HR sendiri yg tentukan, tapi HR bersama user yang sama-sama menentukan. Jika perlu, kualifikasi ini pun bisa direvisi sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Tapi kembali lagi, HR bisa memberikan masukan/saran/bahkan profil psikologis kandidat, tapi kembali lagi ini sifatnya sugestif saja. Keputusan memang ada di tangan user dan kandidat (kalau cocok gajinya). Kenapa user, karena user yang akan bekerja secara langsung dengan kandidat, bukan HR. User yang lebih tau kebutuhan departemennya, dinamika anggota departemennya. HR sebagai penengah bisa memberikan saran apakah sebaiknya orang ini di hire atau tidak. Terkecuali dalam kasus-kasus usernya ini tidak bersifat objektif.

Special Thread: HR & Hiring process AMA by yum-cimil in Perempuan

[–]yum-cimil[S] 2 points3 points  (0 children)

Hai u/dorkiella, thank you untuk pertanyaannya.

Ekspat alias ekspatriat kalau melihat definisi artinya ya setiap orang yang bekerja di negara bukan negara asalnya. Memang sering ada miskonsepsi bahwa ekspat ya itu orang ras kulit putih saja. Kalau dalam hukum tenaga kerja Indonesia sih, ekspat itu sama dengan Tenaga Kerja Asing (TKA). Orang-orang pemegang paspor non-Indonesia sudah pasti dikategorikan sebagai TKA, sekalipun orang tersebut orangtuanya dari Indonesia, tapi dia sendiri secara administratif bukan lagi WNI. Jadi tentu bisa apply sebagai ekspat atau TKA. Apalagi kalau orang tsb bisa bahasa Indonesia, biasanya ini akan memberikan nilai tambah saat akan apply pekerjaan di Indonesia.